Pengangguran: Dari Pekerja Menuju Mindset Kemandirian

Ciputra menuturkan, kewirausahaan akan mampu mengatasi masalah pengangguran, kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Entrepreneurship juga akan membuat kekayaan Indonesia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memakmurkan rakyat. ”Saya terpanggil meng-entrepreneur-kan masyarakat Indonesia. Sejak kecil saya dari keluarga pedagang sehingga entrepreneur tidak hanya jadi slogan,” paparnya. Ciputra menambahkan,sebagian besar masyarakat Indonesia sudah terdidik jadi pekerja. Karena itu, kerja sama empat komponen, yakni pemerintah, pendidik, praktisi bisnis, dan tokoh masyarakat, diperlukan untuk menanamkan jiwa wirausaha.

(Indonesia Butuh 4 Juta Pengusaha Baru, Koran Sindo, 29 Maret 2009)

Krisis keuangan global yang diawali dengan kejatuhan Lehman Brothers di Amerika menggelinding bagai bola salju ke seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Harga selembar saham di Wall Street hingga Bursa Efek Jakarta (BEJ), detik demi detik, menjadi angka sakral yang menentukan nasib ratusan ribu orang yang mengantungkan hidupnya di sebuah perusahaan. Bagai angka yang keluar dari judi togel, fluktuasi investasi yang cenderung menampakan keburaman menjelma menjadi sosok malaikat pencabut nyawa; menentukan besok saya masih bekerja atau harus menganggur.

Di sisi lain, ratusan ribu lulusan SMA, SMK, PTN, PTS, dari tahun ke tahun senantiasa menunjukkan peningkatan ketidakterserapan ke dalam dunia kerja. Mereka terpaksa berbagi identitas menjadi pengangguran terbuka, pengangguran terselubung, hingga pengangguran temporer/insidental. Identitas pengangguran yang terakhir adalah golongan pengangguran yang terserap ke dalam industri politik Pemilu 2009. Dengan sendirinya, kenyataan ini mengundang kompleksitas problematika ketika berhadapan dengan fenomena pemerintah yang sedang khusu’ mempertahankan dan memperebutkan kursi kekuasaan hingga kehilangan perhatian dan kepedulian permasalahan riil yang tengah mengemuka.

Secara jujur, pemerintah pada dasarnya telah berusaha untuk menekan meningkatnya angka pengangguran dengan mengadakan berbagai agenda job fair, pembangunan lapangan kerja baik sektor formal maupun swasta yang baru, mendatangkan investor, pemberian kredit usaha kecil, dan lain sebagainya. Bahkan, Menteri Pendidikan, Bambang Soedibyo, berani menepuk dada di depan Karni Ilyas dalam acara Suara Rakyat di TVOne (27/04) karena merubah prosentase SMA dan SMK yang diharapkan dapat menggoda dunia usaha dan menyerap lulusannya untuk berkarya di perusahaan mereka. Namun pada kenyataannya, angka pengangguran bagai batu karang di pinggir pantai, usaha-usaha pemerintah memang menuai hasil akan tetapi kecil sekali. Jika mengikis batu karang air laut membutuhkan waktu hingga ratusan tahun maka dengan strategi dan langkah-langkah pemerintah, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengikis batu karang pengangguran di Indonesia. Salah satu faktor yang melatarbelakangi kesulitan pemerintah adalah rendahnya daya serap tenaga kerja dibanding dengan jumlah para pencari kerja (angkatan kerja) di Indonesia.

Angka pengangguran yang terus mengalami kenaikan signifikan per tahunnya tidak lepas dari faktor internal dan eksternal masyarakat. Faktor internalnya antara lain: (a) kegagalan Program Keluarga Berencana (KB) sehingga diikuti dengan melonjaknya populasi penduduk Indonesia, (b) progresivitas pertumbuhan konsumerisme sehingga meningkatkan kuantitas kebutuhan ekonomi, (c) rendahnya entrepreneurship sehingga sumber daya yang ada fokus pada kegiatan mencari kerja bukan menciptakan lapangan kerja. Sedangkan, poin-poin faktor eksternal adalah; (a) krisis keuangan global yang melatarbelakangi terjadinya inflasi dan turunnya angka investasi, (b) standar kompetensi lulusan yang tidak sinkron dengan kebutuhan dunia kerja, (c) rendahnya kemampuan ekonomi sehingga mempengaruhi posisi tawar angkatan kerja, dll.


Mindset Kemandirian

Masyarakat selaku objek dan subjek dalam problematika pengangguran di Indonesia dituntut untuk mampu mencari solusi secara mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya kepada pemerintah. Sekian lama, ketergantungan kepada pihak lain (pemerintah) terbukti hanya menunda-nunda permasalahan dan mengganti perwajahan problematika pengangguran, bukan mengurangi apalagi mengikis habis.

Sejak masa Orde Baru, pemerintah telah memperkaya program pengentasan kemiskinannya dengan perona bermerk penanggulangan pertumbuhan angka pengangguran. Program Bangdes (Pembangunan Desa), Koperasi, Kredit Candak Kulak (KCK), PIR (Perkebunan Inti Rakyat), dan lain lain ternyata juga kurang memberikan hasil yang memuaskan. Di era pemerintahan SBY-JK (2004-2009), program-program di atas menjalani operasi wajah menjadi PNPM, P2KP, KUR, PKH, bahkan program miskinisasi BLT, dan ternyata juga menemukan ending serupa dengan pendahulunya. Meski, pemerintah telah membekali program-program ini dengan visi-misi kemandirian ekonomi akan tetapi mayoritas masyarakat Indonesia masih memandang program-program ini sebagai aksi pengelontoran dana yang merupakan kepedulian langsung pemerintah kepada masyarakat. Sebuah fenomena yang luar biasa, sehingga mayoritas masyarakat memandang besaran nominal pinjaman investasi usaha sebagai dana hibah yang tidak perlu digulirkan. Payahnya lagi, infrastruktur program -seperti BKM dan Faskel PNPM- juga memandang program-program ini sebagai proyek insidental-temporer, tanpa kejelasan follow up sehingga keberhasilan program dinilai dengan parameter bangunan fisik dan data-data non-riil yang jauh dari sebuah kriterium kemandirian itu sendiri.

Mindset kemandirian dapat dimunculkan dengan perubahan paradigma masyarakat dalam mendefinisikan ‘pekerjaan’ dan ‘bekerja’. Mayoritas masyarakat setia dengan penilaian bahwa orang yang dianggap bekerja adalah mereka yang ada di kantor-kantor, sektor formal, PNS, atau orang-orang yang bekerja sebagai pekerja pabrik. Paradigma tersebut diperkuat dengan asumsi yang berkembang bahwa bekerja adalah kegiatan menghasilkan gaji (salary) dengan keterikatan jam kerja, setiap hari berangkat dari rumah pukul delapan pagi dan baru pulang setelah pukul lima sore. Kegiatan ekonomi yang berpijak kepada kemandirian dan atau entrepreneurship cenderung diasumsikan minor. Asumsi positif hanya diberikan kepada kegiatan ekonomi mandiri dan atau entrepreneurship yang menghasilkan nominal penghasilan besar.

Kelahiran asumsi minor terhadap kegiatan ekonomi mandiri dan atau entrepreneurship dengan besaran nominal penghasilan sedang dan kecil bukan tanpa latar belakang. Dunia perbankan, reksadana, hingga pembiayaan (leasing) juga cenderung menganggap bahwa kegiatan ekonomi mandiri dan atau entrepreneurship berpenghasilan sedang dan kecil tidak layak untuk menerima pinjaman dan sasaran investasi, sehingga masyarakat dengan latar belakang ekonomi ini makin diasumsikan miring dan tidak menjadi sebuah pilihan berkarya.

Fenomena kesetiaan pada definisi pekerjaan dan bekerja yang terikat pada jam kerja tertentu juga menjangkiti kalangan pendidikan tinggi. Sarjana-sarjana cenderung berpikir bagaimana mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari orang lain, posisi yang menguntungkan dan jenjang karir yang lebih mapan. Paradigma seperti ini menjadi latar belakang kenyataan memprihatinkan yakni aksi-aksi perebutan pekerjaan dengan personal yang notabene pendidikannya lebih rendah (SMA/SMK, DI, DII, DIII). Idealnya, seorang sarjana justru dituntut untuk menjadi pribadi yang lebih unggul dan kuat, tidak bergantung pada pihak-pihak lain dan perusahaan yang telah eksis, mempunyai kreativitas tinggi, berinisiatif, dan memiliki pikiran yang kritis dalam menilai perkembangan zaman. Seorang sarjana diharapkan dapat menjadi problem solver masalah pengangguran tersebut, bukan malah menambah jumlahnya. Coba cermati kenyataan di lingkungan sekitar kita, yang terjadi adalah fenomena seperti sarjana pertanian yang bekerja di sektor pendidikan (guru bidang studi Biologi), sarjana ilmu politik yang bekerja di sektor transportasi (sopir), sarjana sastra Perancis yang bekerja di sektor kehutanan (pendamping program hutan rakyat) dan lain-lain.

Perubahan ke arah mindset kemandirian sangat urgen untuk mengurangi tingkat pengangguran. Seorang angkatan kerja, hendaknya tidak memilah dan memilih sektor pekerjaan atau pun terpancang pada pola pikir yang hanya terfokus pada sektor formal. Karena pada dasarnya, seorang yang tidak bekerja di sektor formal pun masih tetap dianggap bekerja selama apa yang dikerjakan tersebut memberikan penghasilan atau pemasukan finansial seperti pedagang, wiraswasta, peternak, petani, pelukis, auditor, hingga jurnalis independen.

Sejatinya, hidup adalah misi, bukan karir. Karir mengacu kepada profesi, sedangkan misi adalah tujuan. Setiap orang harus mempunyai tujuan dalam hidup, ingin seperti apa dan menjadi apa di masa depan nanti. Sebuah pernyataan misi hidup dapat membangun sebuah keyakinan dalam berusaha dan memberi daya dorong yang kuat untuk mencapai tujuan. Dengan mengetahui misi pribadi, maka orang akan mudah mencari alternatif yang dapat mendukungnya untuk mencapai tujuan hidupnya. Viktor Frankl, seorang psikiater dari Austria, menyatakan bahwa setiap manusia tidak menciptakan talenta dalam hidup ini, melainkan hanya mendeteksinya saja. Dengan kata lain, setiap orang dilahirkan sudah dengan talenta-talenta, dan manusia hanya perlu menggalinya saja. Setiap orang dilahirkan untuk melakukan hal-hal besar dalam hidup ini. Setiap orang dilahirkan dengan segala yang dibutuhkannya untuk meraih sukses. Pengasahan talenta dan pembangunan kesadaran tujuan hidup akan memberikan ruang berpikir, arahan, dan acuan tindak kemandirian, terutama dalam ranah ekonomi.

Hal inilah yang seyogyanya dikembangkan untuk merubah mindset ketergantungan kepada pekerjaan formal sehingga membunuh karakter diri yang independen.


Pemberdayaan Talenta

Dalam dunia pendidikan, penemuan dan pengembangan talenta dilakukan melalui kegiatan bimbingan dan konseling (BK). Namun, keberadaan BK di sekolah, mayoritas lebih dipandang sebagai polisi sekolah dalam penanganan anak-anak berkasus ketimbang sebagai komponen pendidikan yang membantu menemukan talenta dan minat. Apabila BK dapat menempati kembali posisi dan perannya dalam ranah pendidikan maka lulusan akan membekali diri dengan pemahaman talenta dan minat pada suatu bidang secara proporsional.

Penemuan dan pengembangan talenta dapat memberikan suntikan rasa percaya diri dan penghargaan diri individu secara proporsional. Mengenali potensi dan talenta serta mengembangkannya dapat menjadikan kita menjadi manusia yang unggul dan pada tahap inilah pekerjaan akan memburu individu.

Pengangguran bukanlah individu yang tidak dapat melakukan apa-apa, tidak eksis terlibat dan berperan aktif terhadap diri maupun masyarakat, dan murni menjadi beban pihak lain. Justru pengangguran adalah pribadi yang memiliki banyak dan beragam kesempatan untuk berkarya karena tidak ada keterikatan waktu atau jam kerja, dan target pekerjaan yang bersifat eksternal. Pribadi yang menganggur dan tidak terserap dalam dunia kerja bisa melihat peluangnya ini secara positif sebagai suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan mempersiapkan konstruksi usaha mandiri (independent) seperti menjadi wiraswastawan.

Apa yang harus dipersiapkannya?

Tentu saja, dengan memahami dan mengasah talentanya serta membaca kondisi lingkungan di sekitarnya. Melalui pemahaman dan pengasahan talenta individu dapat melepaskan trade mark pengangguran dan meninggalkan statusnya sebagai beban masyarakat. Talenta mampu menjadikan setiap individu untuk dapat mengembangkan diri menjadi wiraswastawan yang sukses di segala bidang dan tidak mustahil dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi orang lain.

Pemahaman dan pengasahan talenta dapat memposisikan individu sebagai bagian dari masyarakat berpartisipasi dalam menyeleseikan problematika pengangguran. Pribadi yang dapat mengembangkan talentanya pun tetap dituntut untuk mampu melihat ke dalam dirinya dan melepaskan ketergantungan kepada pihak lain di luar dirinya, dengan tetap bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan orang di sekitarnya. Kedisiplinan, etos kerja yang tinggi, memiliki dedikasi, determinasi dan kejelasan tujuan hidup menjadi sebuah parameter menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Sejatinya, setiap orang berpikir tentang apa yang bisa aku berikan bagi Indonesia dan bukan hanya memelihara pengharapan; apa yang diberikan Indonesia kepadaku.

Mari berhenti menjadi pekerja orang lain, melakukan apa yang bisa kita lakukan secara optimal, enjoy, dan menjadi pribadi yang mandiri.

Oleh : Anjrah Lelono Broto, Litbang LBTI (Lembaga Baca Tulis Indonesia)
read more “Pengangguran: Dari Pekerja Menuju Mindset Kemandirian”

Buah dan Faedah Istighfar

Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyebutkan ini didalam bukunya tentang buah dan faedah yang dapat kita ambil dari kita melakukan amalan ini, diantaranya ialah :

1. Diampuninya dosa – dosa. Siapa yang mengakui dosanya dan juga meninggalkannya, maka dia akan diampuni.
2. Ridha Allah Swt dan kecintaan-Nya, istighfar merupakan perkara yang penting, sehingga seorang hamba bisa mendapatkan ridha dan kecintaan Allah Swt.
3. Memperoleh Rahmat Allah Swt. Firman-Nya, “ Hendaklah kalian meminta ampun kepada Allah Ta’ala, agar kalian mendapat Rahmat ( An – Naml : 46 ) ”.
4. Membebaskan diri dari adzab. Istighfar merupakan sarana yang paling pokok untuk membebaskan diri dari adzabnya, sebagaimana Firman Allah ” Dan tidaklah Allah Ta’ala akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun. ”. ( Al- Anfal : 33 ).
5. Istighfar mendatangkan kebaikan yang banyak dan juga barokah. Firman Allah Ta’ala. ” Dan ( dia berkata ), ” Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya dia menurunkan hujan yang deras kepada kalian, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian .” ( Hud : 52 ). Didalam Firman-nya yang lain, ” Maka aku katakan kepada mereka, ” Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan dengan lebat, dan akan membanyakkan harta dan anak – anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun – kebun dan mengadakan ( pula didalamnya ) untuk kalian sungai – sungai. ” ( Nuh : 10 – 12 ).
6. Kebeningan hati. Karena istighfar dapat menghapus dosa dan mengenyahkannya. Maka hati pun menjadi bersih dan bening dari noda dosa serta kedurhakaan.
7. Istighfar merupakan kebutuhan hamba yang berkelanjutan. Dia membutuhkannya menjelang siang dan malam, bahkan istighfar senantiasa dibutuhkan dalam setiap perkataan dan perbuatan, kala sendirian maupun ramai, karena didalamnya mengandung kemaslahatan, mendatangkan kebaikan, menyingkirkan kemudhoratan, menambah kekuatan amal hati dan badan serta keyakinan iman.
8. Mendatangkan sikap lemah lembut dan baik tutur katanya. Siapa yang ingin agar Allah Ta’ala memperlakukannya dengan lemah lembut, maka dia harus senantiasa bersama-Nya. Istighfar dapat menjadikan seorang hamba lemah lembut, baik tutur katanya, karena dia biasa mengucapkan kebenaran dan menjelaskannya.
9. Memperbanyak ibadah dan zuhud didunia. Istighfar membutuhkan penyesalan dan taubat, sehingga ia menuntut pelakunya lebih banyak beribadah. Firman Allah ” Sesungguhnya kebaikan – kebaikan itu menghapuskan kesalahan – kesalahan ”. ( Hud : 14 )
Setelah kita mengetahui apa buah dan bagaimana faedahnya bagi kita apabila kita melaksanakan amalan ini, marilah bersama – sama kita saling mengingat kesalahan – kesalahan kita, mumpung kita masih hidup , masih ada waktu memikirkan seberapa banyak dosa yang telah kita kerjakan dan berapa banyak kebaikan – kebaikan yang telah kita kerjakan. Marilah kita bersama – sama mencari ridho Allah Ta’ala mencari Rahmat dan Karunianya yaitu berupa surga di akhirat nanti. Dan mudah – mudahan kita tidak termasuk orang yang merugi di Yaumul akhir nanti. Allahu A’lam.
read more “Buah dan Faedah Istighfar”

Mesin Uang Online Dimulai dari Pikiran Anda

Mesin Uang Online Dimulai dari Pikiran Anda

Jauh sebelum menghasilkan uang dari internet, anda baiknya berpikir apa yang ingin anda capai dari bisnis anda. Seberapa besar bisnis online anda nanti?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita bahas kata “besar” di sini. Tentukan porsi “besar”-nya bisnis anda. Bermainlah dengan isi kepala anda. Besarnya bisnis ini yang akan menuntun anda melangkah. Merangkai jalur-jalur bisnis akan memudahkan anda mencapai tujuan bisnis.

Saat anda sudah punya misi besar untuk masa depan anda, anda tak akan ragu melangkah. Meskipun banyak tantangan yang harus anda taklukkan.

Biasanya yang terjadi begini, waktu pertama kali terjun di bisnis online anda mendapat banyak godaan. Benar, saya berani pastikan anda lebih memilih pekerjaan offline anda yang memberikan pemasukan pasti setiap bulan daripada menekuni bisnis internet.

Wajar, setiap orang yang terjun di bisnis internet tidak serta merta mendapat uang besar. Yang kita dapat hanya uang kecil pada awalnya. Selain itu, sering kali pebisnis pemula dihinggapi rasa bosan. Ketika pekerjaan anda menuntut anda untuk duduk seharian penuh di depan komputer, rasa penat pasti gampang muncul. Apalagi, setelah anda duduk ratusan jam dan belum menghasilkan uang yang lumayan.

Nah, di sini anda harus bisa mengendalikan pikiran anda. Tidak ada yang mudah di awal. Kesuksesan pasti selalu datang seiring dengan besarnya usaha yang kita lakukan. Bulan pertama lazimnya kita mendapatkan bayaran yang tidak setimpal dengan usaha, tapi tunggu saja di bulan-bulan berikutnya. Penghasilan anda akan terus meningkat tiap minggunya. Asal, prospek bisnis internet yang anda bangun cerah, masa depan anda juga ikut terang benderang. Contoh, seperti Mas Muklis yang sudah mampu membeli komputer baru dari hasil bisnis online.

Kuncinya: bukan bisnis apa yang bisa membuat anda kaya. Tapi, bagaimana membuat bisnis yang bisa membuat anda kaya raya.

Ingat, bisnis apapun bisa membuat anda kaya. Tak perlu berpikir terlalu jauh. Cari cara bagaimana target pasar anda menemukan produk anda! Itu saja sudah cukup. Selama harga yang anda tentukan bisa dijangkau oleh mereka, pastilah produk anda laris. Mempertemukan kutub “penawaran dan permintaan” ini lebih penting dan menghasilkan.

Selanjutnya, jadikan diri anda berbeda dari orang lain. Jika orang lain menganggap Rp 10 juta adalah jumlah yang besar, maka anda harus berpikiran bahwa Rp 10 juta itu kecil. Tanamkan dalam pikran anda, “dalam sekejap saya bisa menghasilkan uang Rp 10 juta.” Saat orang lain perlu waktu 1 bulan untuk menghasilkan Rp 10 juta, maka anda harus menetapkan Rp 10 juta bisa anda raih dalam waktu sehari.

Berbeda halnya jika anda menganggap Rp 10 juta sebagai jumlah yang maksimal bisa anda dapatkan, selamanya usaha anda akan terpatok di angka Rp 10 juta. Tentu anda tak mau mandeg di penghasilan nominal tertentu bukan? Tanamkan di benak anda bahwa penghasilan anda harus terus bertambah dan bertambah setiap bulan!

Satu hal lagi, saat bekerja tak perlu memantau tumpukan uang yang masuk ke rekening anda. Yang terpenting anda ikut mengalir dalam irama kerja yang sudah anda buat. Saat anda sudah menentukan besar penghasilan, uang akan masuk sendiri ke rekening anda sesuai yang anda harapkan. Ini konsep menghasilkan uang dari internet yang sering orang abaikan.

Pikiran anda akan menentukan langkah-langkah anda. Tapi, jangan lantas hanya berpikir saja. Tetap anda butuh ACTION! Kalau cuma berpikir dan berpikir, uang tak akan menghampiri anda.

Anda setuju? Bagaimana pendapat anda?
read more “Mesin Uang Online Dimulai dari Pikiran Anda”